Tugas Akhir
Transformasi Institusi Seni-Budaya Melalui Governansi Berbasis Etika Dan Kepemimpinan Transformasional(Studi Kasus Komunitas Salihara dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja)
Transformasi institusi seni-budaya selama ini lebih banyak dipahami sebagai perubahan organisasi yang berkaitan dengan struktur, kepemimpinan, atau tata kelola. Padahal,berbagai kajian belum sepenuhnya mampu menjelaskan bagaimana transformasitersebut berlangsung sebagai proses pelembagaan nilai yang menghubungkankepemimpinan, governansi, dan keberlanjutan institusi dalam satu kerangka konseptual.Atas dasar kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan membangun pemahamanmengenai bagaimana transformasi institusi seni-budaya berlangsung sebagai prosespelembagaan nilai melalui konfigurasi mekanisme reflektif antara KepemimpinanTransformasional (Transformational Leadership/TL), Governansi Berbasis Etika(Ethical Governance/EG), Transformasi Organisasi (Organizational Transformation/OT), dan Kinerja Berkelanjutan (Sustainable Performance/SP). Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis–interpretatif dengan desain studikasus ganda pada Komunitas Salihara (Jakarta) dan Padepokan Seni BagongKussudiardja (Yogyakarta). Analisis dilakukan melalui integrasi process tracing,pattern matching, triangulasi sumber dan metode, serta inferensi interpretatif untukmenelusuri expected reflective mechanisms dalam praktik kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi institusi seni-budaya tidak berlangsung sebagai rangkaian hubungan sebab–akibat yang bersifat linier, melainkansebagai konfigurasi mekanisme reflektif yang bekerja secara kontekstual melaluipelembagaan nilai. Keempat proposisi memperoleh dukungan empiris dengan variasikontekstual pada kedua institusi. Sintesis inferensial menghasilkan Model GovernansiSepeda sebagai representasi konseptual konfigurasi mekanisme reflektif sertamengidentifikasi dua arketipe implementasi governansi institusi seni-budaya, yaituArketipe Intelektual–Independen pada Komunitas Salihara dan Arketipe Kolektif–Profesional pada Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi utama, yaitu kontribusi empiris berupaidentifikasi dua arketipe implementasi governansi institusi seni-budaya Indonesia,kontribusi konseptual berupa perumusan Model Governansi Sepeda sebagairepresentasi konseptual hasil sintesis inferensial, dan kontribusi metodologis berupapenguatan penerapan process tracing, pattern matching, serta inferensi interpretatifdalam studi kasus ganda berparadigma konstruktivis–interpretatif. Dengan demikian,penelitian ini membangun pemahaman bahwa keberlanjutan institusi seni-budayatidak ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan bentuk organisasi, melainkanoleh kemampuannya terus melembagakan nilai melalui transformasi yang reflektif,kontekstual, dan berlandaskan legitimasi sosial.
Tidak tersedia versi lain