Buku Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942–1949 karya Chairil Anwar merupakan kumpulan puisi terlengkap yang menghimpun karya-karya Chairil Anwar sepanjang periode 1942–1949. Di dalamnya termuat sajak-sajak yang sebelumnya tersebar dalam berbagai antologi, seperti Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, serta beberapa karya lain yang menjadi tonggak penting p…
Buku ini menjelaskan perjalanan moelyono dalam melibatkan diri dalam ruang masyarakat secara langsung, turun menggambar menjadi aktivitas pergerakan yang ia bawa, ke desa-desa ia menghadirkan media dunia kesenirupaan itu, belajar bersama bagaimana seni sebagai wilayah dalam membahas kemiskinan. Buku ini ialah kesaksian proses dimulai dari teluk Brumbun, dan Nggerangan, ke desa Wonorejo Tulungag…
Cerita tentang simbol-simbol agama di dalam tubuh birokrasi sejak tahun 1999. Juga mengisahkan "tradisi" di kalangan birokrat, dengan sumber diambil dari para birokrat di jawa timur. Dikisahkan dalam buku, sebuah wawancara penulis buku dengan seorang birokrat: sang birokrat berujar "zamannya sekarang sudah bukan piara binatang untuk bertahan hidup, tetapi sekarang zamannya piara rekanan"... ter…
Puisi dalam sastra Jawa Kuno, menurut pakar Jawa Zoetmulder, secara kiasan sering disebut candi. Karena keduanya, baik puisi (kata-kata) ataupun candi, dapat menyebabkan datangnya Sang Dewa agar manusia bisa bersatu denganNya. Selain itu dalam tradisi kakawin (puisi epic), bagi sang penyair (kawi) puisi adalah semacam yoga. Dalam agama Hindu Jawa, yoga adalah usaha untuk mencapai kesatuan denga…
Kalau ada penyair yang menganggap sajaknya adalah “anak”, maka buku ini menjadi istimewa karena menghadirkan “anak-anak” yang hilang Sitor Situmorang, penyair terkemuka kelahoran 2 Oktober 1924. Sebanyak 103 sajak dalam buku ini bukan saja akan membawa Anda merasakan pulangnya “anak-anak” yang hilang dari setengah abad lebih karir kepenyairan Sitor Situmorang, tetapi juga dedikasiny…