Buku ini dapat digunakan untuk memahami teori interpretasi pada umumnya dan untuk melengkapi studi filsafat, teologi, sastra, sosiologi, etnografi ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu politik yang kesemuanya mengarahkan pada disiplin dan mazhab buku ini, yakni Hermeneutika. Tidak semua tokoh secara eksplisit menyentuh persoalan interpretasi skriptural. Schleiermacher, Bultmann dan Ricoeur memang s…
Yogyakarta dahulu dikenal dua orang pengendang hebat, generasi pertama yaitu Raden Lurah Larasumbaga dan Basuki Kuswaraga sebagai generasi kedua. Generasi ketiga yang mampu menduduki sebutan sebagai pengendang hebat adalah Trustho. Bila mencermati judul tesis yang mengantarkan Pak Trustho menyandang gelar Magister Humaniora sudah tersirat, bahwa ia akan banyak menuangkan pengalamannya sebagai p…
Trilogi seni merupakan uraian komprehensif mengenai styless, schools, and movements dalam seni rupa yang sepatutnya menjadi bacaan wajib bagi setiap insan yang mendalami seni. Penulis menjelaskan secara ringkas dan ilmiah segala aspek seni dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. Buku ini ibarat mata air yang datang dari kandungan air pepohonan sekitar,jernih dan bersih aliran informasinya.
Era informasi yang penuh dengan silang sengkarut wacana membuat manusia menghadapi masalah - masalah kemanusiaan baru, diantranya delegitimasi dan kapitalisasi pengetahuan serta kehidupan mekanis dan ekonomis. Dunia kehidupan manusia dijajah menjadi sekedar persoalan sarana untuk mencapai tujuan. Pada saat itulah budaya telah kehilangan dorongannya sebagai sumber kreativitas manusia. Dalam hal …
Apakah seni itu? Ini merupakan pertanyaan filosofis jika kita mencoba menjawab pertanyaan itu secara hakiki, mendasar, dan radikal. Buku ini merupakan usaha memahami secara mendasar gejala yang disebut seni itu. Dan gejala seni adalah gejala tentang nilai. Apakah nilai seni itu ada pada benda seni itu sendiri? Atau berasal dari seniman pencipta benda seni? Atau justru berasal dari para penangga…
Penulis buku ini, Christian Pelras menyisipkan sejumkah detak kebudayaan Bugis yang tampak melangkahi denyut kultural Eropa yang sering dianggap berada di garis terdepan arus waktu progresif. Pelras misalnya menyajikan bagaimana kebudayaan Bugis menyediakan ruang bagi gender ketiga dan keempat dan bagaimana perempuan menduduki tempat yang benar-benar sejajar dengan lelaki.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gagasan dan nilai estetis dalam kesenian Adok, untuk membuktikan peran kesenian Adok sebagai sarana edukasi estetis bagi masyarakat penyangganya. Persoalan utamanya; kesenian Adok berkaitan dengan adat dan dianggap keramat, berbeda dengan kesenian tradisi pada umumnya, sebagai permainan rakyat, bersifat sekuler, dan tidak terkait dengan adat, namun saat…